Beranda Uncategorized

Habis Manis Sepah Di Buang Hidup Lumpuh Penuh Penderitaan

1729
0


HALILINTARNEWS.id, BANTAENG — Hidup segang mati tak mau, begitulah nasib hidup seorang Sia yang pada awalnya mengalami jatuh dari rumah panggung yang lantainya rapuh dan akhirnya Sia terjatuh, dan mengalami Patah tulang pada bagian Pahanya.

Nasib pilu dialami Sia (40) hidup lumpuh dan tidak dinafkahi oleh suami satu tahun terakhir. Setelah menikah Sia numpang tinggal di rumah orang tua tepatnya di Kelurahan Bontorita, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Di rumah itulah Sia hidup bersama suami Kaing (42), ibu Bada (70), dan empat anak Suci, Sinta, Ira, dan Rizal. Saya hanya bisa duduk di lantai beralaskan tikar biru, kepalanya direbahkan dengan tumpukan bantal di depannya, tubuhnya dibalut sarung warna coklat. Sesekali ia menjerit kesakitan, sangkin sakit yang rasanya tanggung tidak dapat ditahan.

Hanya ada satu ranjang kayu tanpa pintu, bagian dapur piring berserakan di mana-mana. Sementara atap di dapur sudah tak latak lagi alias bolong , sehingga ketika hujan air leluasa turun membasahi lantai rumah Sia yang juga sudah tidak layak huni lagi.

Sia mengatakan pada tahun 2018 jatuh di rumah panggung, milik tetangganya, itulah yang menyebabkan tulang paha bagian kanannya patah. saat Sia terjatuh, di dapur tetangganya, Seketika dilarikan ke RSUD Bantaeng berobat. Setelah itu tidak pernah lagi pergi karena tidak ada yang antar,” kenang Sia.

Kini Sia hanya bisa pasrah, menghabiskan hari-harinya duduk berjam-jam di lantai. Tubuhnya tidak bisa dibaringkan ke lantai, ” kalau datang sakitnya hanya bisa meraung-raung tak kuat menahan sakit,”tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Suami Sia, Kaing yang bekerja sebagai tukang becak, tidak pernah menafkahi interinya yang lagi sakit, tidak peduli dengan kesembuhan Sia. Jangankan diantar berobat, diberi uang untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak.

Jika Kaing mendapatkan uang dari mengayuh becak, uang itu habiskan sendiri. Sementara untuk biaya sekolah anak-anak ditanggung oleh mertua Sia.

Hidup dari belas kasihan tetangga, beruntung Sia memiliki tetangga yang menanggung kebutuhan sehari-harinya seperti lauk pauk, air dan listrik.

“Alhamdulillah ada tetangga selama ini mau membantu, kalau tidak maka mungkin sampai hari ini kami tidak bisa bertahan hidup,” ungkap Sia.

Sementara Lurah Bontorita H .Ahmad Efendi mengatakan Sia mendapat bantuan sembako, kalau Ibu Sia terima PKH, BPNT, bantuan sembako dan pernah dapat bedah rumah dari Baznas Bantaeng,” ungkapnya.

Begitulah kisah hidup seorang Sia yang selama ini menganrungi hidupnya, dengan menggantungkan hidupnya bersama keluarga kecilnya, dengan tetangganya. Hidup bagai di atas roda, silih berganti dan saling bergantung sama lain.

Penulis : Red
Editor    : Supriadi Awing
halilintarnews.id. 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here