HALILINTARNEWS.id, BANTAENG – Suasana rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Bantaeng, Kamis (11/9/2025), berubah tegang setelah puluhan buruh PT Huadi meluapkan kekecewaan mereka. Tidak satupun pimpinan DPRD hadir dalam forum tersebut, padahal buruh datang untuk memperjuangkan hak-hak yang dinilai terabaikan.
Ketiadaan pimpinan dewan dianggap bentuk pengabaian. Dari 30 legislator, hanya segelintir yang hadir. Akibatnya, buruh mengekspresikan protes dengan melakukan penyegelan kantor DPRD.
> “Kami datang jauh-jauh membawa aspirasi, tapi justru tidak ditemui pimpinan dewan. Ini bentuk pelecehan terhadap buruh,” tegas salah seorang perwakilan.
Tak hanya itu, massa mendesak agar dibangun posko pengawalan di depan kantor DPRD sebagai simbol perlawanan dan pengawasan terhadap kinerja wakil rakyat.
Aksi penyegelan berlangsung di bawah kawalan aparat kepolisian. Meski penuh ketegangan, situasi tetap terkendali. Para buruh menegaskan segel baru akan dibuka jika pimpinan DPRD bersedia duduk bersama mencari solusi.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak pimpinan DPRD Bantaeng belum memberikan keterangan resmi terkait absennya mereka dalam agenda RDP tersebut. Supriadi Awing












