Hadiri Rewako Petani Pintar 2026, Pemuda Bantaeng Dorong Kakao Jadi Komoditas Strategis Sulsel

Oplus_16908288


HALILINTARNEWS.ID, MAKASSAR – Perjuangan meningkatkan kesejahteraan petani kakao terus disuarakan pemuda asal Kabupaten Bantaeng.

Dalam pertemuan kedua Rewako Petani Pintar 2026 yang digelar Bank Indonesia Sulawesi Selatan di Hotel Aryaduta Makassar, Aenul Dzulkarnain kembali membawa suara petani kakao dari tingkat akar rumput.

Aenul merupakan pemuda tani milenial yang hingga kini aktif sebagai petani sekaligus menjadi salah satu pelopor dalam mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen kakao. Baginya, peningkatan produksi tidak akan berarti apabila petani tetap berada dalam posisi lemah ketika berhadapan dengan fluktuasi harga pasar.

Ia menilai kakao memiliki potensi besar untuk menjadi sumber kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara serius, mulai dari budidaya, kualitas hasil panen, pengolahan hingga penciptaan produk turunan bernilai ekonomi tinggi.

β€œKakao adalah berlian coklat yang mesti dipertahankan harganya. Tentunya, harga yang baik harus dibarengi dengan kualitas yang baik,” ujar Aenul.

Menurutnya, kualitas kakao menjadi salah satu faktor penting yang menentukan nilai ekonomi yang diterima petani. Karena itu, petani harus didorong untuk menghasilkan produk berkualitas, sementara pasar juga harus memberikan penghargaan yang sepadan terhadap kualitas tersebut.β€œAda harga, ada pula kualitas yang akan diberikan,” tegasnya.

Namun, persoalan kakao tidak berhenti pada kualitas. Aenul menyoroti ketergantungan petani terhadap pergerakan harga kakao global yang sangat sulit dikendalikan dari tingkat petani.

Ketika harga global mengalami penurunan, dampaknya langsung dirasakan petani. Kondisi inilah yang menurutnya harus mulai diantisipasi melalui inovasi dan pengembangan industri kakao di daerah.

Bacaan Lainnya

β€œPetani jangan terus-menerus khawatir terhadap harga global. Kita harus memiliki solusi agar ketika harga kakao dunia turun, petani tetap mempunyai sumber nilai tambah dari produk yang kita hasilkan,” katanya.

Bantaeng Harus Jadi Kiblat Kakao Sulsel
Aenul optimistis Kabupaten Bantaeng memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan kakao di Sulawesi Selatan.



Menurutnya, Bantaeng tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Daerah tersebut harus mampu bergerak menuju pengolahan dan industri kakao sehingga nilai tambah produk dapat kembali dinikmati masyarakat, khususnya petani.
β€œBantaeng harus menjadi kiblat bagi petani kakao Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Ia menilai salah satu solusi yang perlu segera diwujudkan adalah menghadirkan produk olahan kakao lokal yang dapat menjadi penyeimbang ketika harga kakao di pasar global mengalami tekanan.

Dengan demikian, petani tidak hanya bergantung pada penjualan biji kakao mentah, tetapi dapat memperoleh manfaat ekonomi dari proses pengolahan dan diversifikasi produk.

Tiga Tahun Meneliti, Kini Menunggu Langkah Industri

Aenul mengungkapkan bahwa gagasan tersebut tidak lahir secara instan. Selama kurang lebih tiga tahun, dirinya telah melakukan proses pengolahan dan penelitian lahan sebagai bagian dari upaya membangun model pengembangan kakao yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Ia mengaku semakin optimistis Bantaeng mampu melahirkan produk lokal yang memiliki daya saing dengan produk-produk berskala besar.

β€œTujuan perjuangan ini jelas. Setelah proses pengolahan lahan yang telah saya teliti selama kurang lebih tiga tahun, saya optimistis Bantaeng bisa menghasilkan produk lokal yang mampu bersaing dengan produk besar,” ungkapnya.

Meski demikian, masih terdapat kendala yang harus diselesaikan sebelum gagasan tersebut dapat masuk ke tahap reformasi industri kakao di Bantaeng. Salah satunya adalah keterbatasan peralatan pendukung produksi dan pengolahan.

β€œSaat ini tinggal persoalan alat yang masih menjadi kendala untuk memulai reformasi industri kakao di Bantaeng,” pungkas Aenul.

Ia berharap adanya kolaborasi antara petani, pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, lembaga pendamping serta pihak terkait lainnya untuk membuka jalan bagi penguatan industri kakao lokal.

Bagi Aenul, masa depan petani kakao tidak boleh hanya ditentukan oleh harga pasar global. Petani harus memiliki posisi tawar, produk bernilai tambah, dan industri sendiri agar hasil bumi Bantaeng benar-benar mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat. (Ilham)

PT. Halilintar News Group

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *