HALILINTARNEWS.id, BANTAENG – Hampir satu bulan sejak menjadi sorotan publik, dugaan penyimpangan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar di SPBU Lambocca Nomor 74.924.04, Jalan A. Mannappiang, Desa Biangkeke, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng, belum menunjukkan perkembangan yang jelas.
Kasus tersebut mencuat setelah beredarnya rekaman video yang memperlihatkan sebuah mobil tangki industri berwarna biru-putih berada di dalam area SPBU Lambocca pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.19 WITA.
Video itu kemudian viral di media sosial dan berbagai grup WhatsApp, sehingga memicu perhatian masyarakat serta menjadi pemberitaan di sejumlah media.
Keberadaan mobil tangki industri di area SPBU memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat terkait mekanisme distribusi BBM bersubsidi. Polemik semakin berkembang karena warga mengaku stok Bio Solar di SPBU tersebut kerap habis sebelum siang hari.
Ketua DPD Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Bantaeng, Andi Yusdanar Hakim, menilai seluruh dugaan yang berkembang harus diusut secara terbuka dan profesional agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya persoalan BBM yang cepat habis. Publik berhak mengetahui bagaimana alur distribusi BBM bersubsidi, siapa pemasoknya, dan apakah seluruh administrasi pengiriman telah sesuai prosedur,” tegas Yusdanar.
Menurutnya, penjelasan pihak SPBU yang menyebut mobil tangki industri masuk sekitar empat hingga lima kali dalam sebulan perlu diklarifikasi lebih lanjut, mengingat masyarakat justru mengeluhkan stok Bio Solar sering habis sekitar pukul 12.00 WITA.
“Kalau distribusinya normal, mengapa masyarakat mengaku sekitar pukul 12.00 WITA Bio Solar sudah habis? Pertanyaan ini harus dijawab secara terbuka oleh pihak yang berwenang,” ujarnya.
Selain persoalan stok, LIRA juga menyoroti dugaan kejanggalan pada dokumen pengiriman BBM yang disebut tidak dilengkapi barcode, stempel maupun tanda tangan.
Berdasarkan hasil perbandingan terhadap dua surat pengantar pengiriman, ditemukan identitas kendaraan, nama pengemudi, waktu keberangkatan, tujuan pengiriman hingga jumlah muatan tercatat sama. Namun, dokumen tersebut memuat perbedaan pada jenis produk yang diangkut, yakni Bio Solar B40 dan Pertalite.
Perbedaan juga disebut terdapat pada Nomor SO/SA, Nomor Loading Order (LO), data Density/Temperature (OBS), hingga nomor order berikutnya.
“Temuan ini perlu ditelusuri secara menyeluruh oleh aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam distribusi BBM bersubsidi,” katanya.
Atas dasar itu, DPD Pemuda LIRA Kabupaten Bantaeng secara resmi melaporkan dugaan penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi kepada aparat penegak hukum. Laporan tertanggal 29 Juni 2026 tersebut juga ditembuskan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ketua Komisi XII DPR RI, BPH Migas, serta PT Pertamina (Persero) TBBM Makassar.
Salah satu dasar laporan tersebut adalah rekaman video yang diduga memperlihatkan mobil tangki bertuliskan PT Halima Duta Utama Energi berada di area SPBU Lambocca pada dini hari.
Di sisi lain, Pengawas SPBU Lambocca, Suwardi, membenarkan adanya mobil tangki industri yang masuk ke area SPBU pada waktu tersebut. Namun, ia membantah kendaraan itu digunakan untuk menyedot BBM bersubsidi.
Menurutnya, armada tersebut datang untuk melakukan pembongkaran Bio Solar sebagai bagian dari distribusi BBM ke SPBU.
“Kendaraan itu datang untuk membongkar Bio Solar, bukan menyedot BBM,” ujar Suwardi saat ditemui wartawan, 30 Juni 2026.
Suwardi juga mengaku tidak melakukan pemeriksaan secara rinci terhadap dokumen pengiriman yang dibawa sopir, termasuk mengenai keberadaan barcode, stempel maupun tanda tangan.
“Kami hanya menerima dokumen pengiriman.
Kalau soal keabsahan administrasi, silakan dikonfirmasi langsung ke Pertamina Makassar,” katanya.
Sementara itu, Pengawas SPBU Lambocca lainnya, Kifli, menjelaskan armada tangki industri berwarna putih-biru tersebut merupakan kendaraan pendukung distribusi BBM dari Depot Pertamina Makassar.
Menurutnya, mobil tangki itu memiliki tiga kompartemen (skat), sehingga dapat mengangkut beberapa jenis BBM dalam satu kali perjalanan sesuai sistem distribusi yang berlaku. Supriadi Awing












