HALILINTARNEWS.id, BANTAENG β Krisis air bersih di wilayah Bontoatu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, semakin memuncak. Puluhan warga mendatangi Kantor Bupati Bantaeng untuk menyampaikan protes atas kesulitan mendapatkan air bersih yang telah berlangsung sekitar satu bulan.
Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 12.00 WITA. Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Bantaeng segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis air yang telah mengganggu kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Krisis tersebut disebut semakin terasa akibat kemarau berkepanjangan. Warga mengaku kesulitan memperoleh air untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk mandi dan mencuci.
Bahkan, dalam kondisi tersebut, sebagian warga terpaksa memanfaatkan fasilitas masjid yang memiliki sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air.
βKalau membutuhkan air, kami mandi di masjid karena di sana ada sumur bor,β ujar salah seorang warga saat menyampaikan keluhannya.
Massa dan Satpol PP Nyaris Bentrok
Situasi aksi sempat memanas ketika massa berhadapan dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berjaga di sekitar Kantor Bupati Bantaeng.
Ketegangan tersebut nyaris memicu aksi saling dorong hingga baku pukul antara warga dan petugas. Beruntung, situasi dapat diredam sehingga bentrokan lebih besar tidak terjadi.
Massa meminta pemerintah tidak hanya memberikan janji, tetapi segera menghadirkan solusi nyata. Mereka mendesak adanya distribusi air bersih secara langsung ke wilayah yang mengalami krisis.
Menurut warga, persoalan air bersih sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah biasa karena telah menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat.

Bupati Temui Massa dan Minta Waktu
Di tengah aksi, Bupati BantaengΒ Uji Nurdin Abdullah turun langsung menemui warga. Ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengakui bahwa kemarau panjang tahun ini berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.
βMohon maaf, tahun ini kita mengalami kemarau berkepanjangan, salah satunya di Bontoatu. Kami juga merasakan. Kasih kita waktu, karena banyak masyarakat yang mengeluh,β ujar Bupati di hadapan massa.
Bupati memastikan pemerintah daerah akan melakukan penanganan. Untuk sementara, warga yang terdampak akan mendapatkan pelayanan air bersih secara gratis.
βUntuk sementara masyarakat digratiskan dulu. Kami juga merasakan,β katanya.
Ia menjelaskan, dampak kekurangan air tidak hanya dirasakan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga telah dirasakan oleh sektor pertanian.
βKita berupaya. Petani juga merasakan, saya juga mengurangi konsumsi air,β ungkapnya.
Direktur PDAM Segera Dipanggil
Sebagai langkah tindak lanjut, Bupati menyatakan akan segera memanggil Direktur PDAM Bantaeng untuk membahas persoalan pelayanan dan distribusi air bersih.
βHari ini juga kami akan panggil Direktur PDAM Bantaeng,β tegasnya.
Pemerintah daerah juga akan mengevaluasi kondisi jaringan serta instalasi distribusi air. Sebab, menurut Bupati, tersedianya sumber air belum tentu menyelesaikan persoalan jika jaringan dan instalasi tidak mampu mengalirkannya hingga ke rumah-rumah warga.
βAda air, tetapi apa jadinya instalasinya? Apakah mampu atau tidak,β jelasnya.
Bupati menyebut persoalan kekurangan air juga terjadi di sejumlah wilayah lain, di antaranya Bontomajannang dan Bontokaraeng.
Warga Lanjutkan Aspirasi ke DPRD
Setelah menyampaikan tuntutan di depan Kantor Bupati, massa aksi kemudian melanjutkan penyampaian aspirasi ke Gedung DPRD Kabupaten Bantaeng.
Hingga berita ini diturunkan, para peserta aksi masih berada di ruang sidang DPRD Bantaeng untuk menyampaikan tuntutan mereka.
Warga berharap DPRD Bantaeng dapat ikut mengawal penyelesaian persoalan tersebut dan mendorong pemerintah daerah mengambil langkah darurat, terutama memastikan pasokan air bersih segera menjangkau masyarakat terdampak.
Bagi warga Bontoatu, persoalan air bersih bukan sekadar persoalan pelayanan, melainkan menyangkut kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Mereka meminta pemerintah bergerak cepat agar krisis air tidak semakin meluas dan berlarut-larut. (Supriadi Awing)












