HALILINTARNEWS.id, BANTAENG — Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Bantaeng diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Hal itu dibahas dalam Pertemuan Diseminasi Rekomendasi dan Respons Hasil Pengkajian Kematian Ibu dan Bayi yang digelar Dinas Kesehatan Bantaeng, Kamis (8/10/2026), di Aula Pertemuan KPU Bantaeng.
Kegiatan dihadiri Kepala Kantor Kemenag Bantaeng H. Misbah dan Kasubbag TU Sopyan Yasri, bersama unsur pemerintah, Puskesmas, rumah sakit, organisasi profesi kesehatan dan TP PKK.
Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng, dr. H. Andi Ihsan, M.Kes., memaparkan data kematian ibu dan bayi. Pada 2024 tercatat 7 kematian ibu dan 48 kematian perinatal. Tahun 2025 terdapat 7 kematian ibu dan 28 kematian perinatal.
Sementara hingga September 2026 tercatat 4 kematian ibu dan 40 kematian perinatal.
Hasil pengkajian menemukan sejumlah faktor penyebab, di antaranya syok hipovolemik, emboli air ketuban, hipoksia intrauterin dan prematuritas. Kendala penanganan juga mencakup keterlambatan pengobatan, pemantauan yang belum optimal, keterbatasan layanan serta ketidakpatuhan pasien terhadap anjuran pengobatan.
Sejumlah rekomendasi disiapkan, termasuk penguatan sistem rujukan, kesiapsiagaan kegawatdaruratan serta pemantauan kasus secara berkelanjutan.
Kemenag Bantaeng turut mendorong penguatan edukasi masyarakat dan peran keluarga dalam menjaga kesehatan ibu dan anak sebagai bagian dari upaya menekan angka kematian.












