Kenang Leluhur Dan Sejarahnya, Ratusan Turunan I Langko Karaeng Guna Kembali Lestarikan Nilai Budaya Kerajaan Sapanang Binamu



HALILINTARNEWS.id, JENEPONTO — Ratusan Orang Keturunan I Langko Karaeng Guna Bin I Mangitungi Dg.Rimo Karaeng Sapanang Bin I Morra Dg Pabilu Karaeng Sapanang Bin I Pagorra Karaeng Ropu menggelar Pertemuan Silaturahmi- Silaturahim dan Halal biHalal Pertama bertempat di Kampung Sekke,Desa Kayuloe Barat,kecamatan Turatea,Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan pada Ju’mat 28/4/2023 M/ 07 Syawal 1444 H.

Keluarga Besar I Langko Karaeng Guna Berziarah Pekuburan Tunru Dg Ngero Karaeng SAPANANG diTaman Makam Pahlawan Karisa

Kegiatan Silaturahmi bertujuan Menguatkan Silaturahim Lestarikan Nilai Budaya dan Sejarah Sapanang.

* Sapanang Dalam Lintasan Sejarah.

– Tidak ada Manuskrip atau Literatur yang menuliskan secara terukur dan otentik kapan berdirinya atau kapan munculnya Kerajaan Sapanang secara pasti.

– Hanya sedikit yang di ketahui tentang Sejarah Kerajaan Sapanang karena belum banyak yang telah di teliti dengan baik oleh para Sejarawan dan para Arkeolog.

– Lontarak sulit di temui di Jeneponto pada masa sekarang,banyak manuskrip yang di hancurkan,di bakar dan di ambil pada masa Penjajahan Kolonial Belanda dan masa Pemberontakan Kahar Muzakkar pada 1950-an dan awal 1960-an.
Kelangkaannya dapat dibuktikan oleh fakta bahwa dari 4.000 manuskrip tua yang dimikrofilmkan oleh Arsip Nasional dalam beberapa dekade terakhir,hanya tiga yang berasal dari Jeneponto,sebagaimana yang tertera dalam katalog Nasional,mencari naskah-naskah kuno itu tanpa isi indeks nan detail akan memakan waktu yang lama ( Cummings,1999,2000 ).
– Tahun 1976 dan 1978 selama dua tahun berturut-turut telah dilakukan Penelitian Lontaraq di Sulawesi Selatan.Penelitian berupa proyek dari Departemen P dan K.Yang berjudul Proyek Inventarisasi dan Lokalisasi Naskah Lontaraq di Sulawesi Selatan.
Peniliti sangat prihatin karena banyak menjumpai naskah Lontaraq yang di simpan oleh para pemiliknya tanpa pernah di buka apalagi di baca,ternyata kertasnya sudah robek-robek di makan ngengat,tulisannya sudah tidak terbaca dan isinya tak dapat di ketahui.
-Tahun 1991,Ford Foundation selama beberapa tahun mengulurkan tangannya dengan memberikan biaya yang cukup besar kepada UNHAS dalam hal ini pada studi Pedesaan untuk mencari,mengumpulkan dan memikrofilemkan naskah- naskah di Sul-Sel.Mengerahkan beberapa tenaga pengajar dari Fakultas Sastra telah terkumpul ribuan naskah.Sekarang ini naskah-naskah tersebut tersimpan pada Arsip Nasional Perwakilan Sulawesi Selatan.Naskah ini banyak yang rusak,hurufnya banyak yang tak dapat di baca lagi,bahkan banyak yang tidak lengkap isinya.untunglah sebagian besar dari naskah ini telah di mikrofilemkan.(Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Jeneponto/Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan Tahun 1983 ).

* Menurut salah satu Tradisi Lisan dan Literatur Manuskrip :

– Pada Zaman dahulu Ke Tujuh Tumanurung Saudara Kandung yang terdiri dari seorang gadis muda dan Ke- 6 Kakak Laki-lakinya yaitu :
1.Tumanurung di Layu
2.Tumanurung di Kalimporo
3.Tumanurung di Balang
4.Tumanurung di Tolo
5.Tumanurung Tinaro
6.Tumanurung Ballarompo
7.Tumanurung di Manjang Loe.
Setelah kemunculan Para Tumanurung itu,Toddo Appaka memutuskan bahwa gadis muda menjadi Penguasa Kerajaan Binamu.Mereka mengajukan Keputusannya kepada Penguasa/Karaeng di Balang,dan dengan Persetujuannya sang Tumanurung di angkat menjadi Karaeng Binamu.
Pada masa Kekuasaannya, Ia membangun Jembatan Bambu yang melintasi Sungai Jeneponto di Sapanang guna memberikan akses untuk menuju Istananya di Karaeng Loe adalah nama Puncak Bukit Sapanang.
Ia juga melanjutkan tradisi,yang di bangun oleh Toddo Appaka,dalam mencari nasihat dan persetujuan dari Penguasa/Karaeng Balang tentang masalah Kenegaraan.Pada akhirnya,Penguasa Binamu turun dari Bukit Sapanang dan tinggal di seberang Sungai di Dataran rendah Sapanang ( Laporan 1983,ringkasan terjemahan oleh Haji Iskandar dari Palajau menghubungkan versi serupa dari tradisi dengan versi Stepen Druce yang di buat pada 1998 dan Buku Tiga Ungkapan Sejarah Turatea ; asal terbentuknya Kerajaan Binamu,Tahun 2001 – 2002 ).
– I Tani Dg.Sakking Karaeng Binamu.
( Ibunya I Tamparang Dg.Mangesa Karaeng Balang dan I Ronggo Dg.Makulle dll ).
I Tani Karaeng Binamu memerintah Istananya di Bukit Sapanang ( Buku Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan,Laporan Pengumpulan data Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Jeneponto Tahun 1983 ).
– untuk melegitimasi Kekuasaan Layu atas Lembah Jeneponto hingga ke sebelah timurnya,ini di lakukan dengan menekankan pada persetujuan penguasa negeri Jeneponto di Balang atas pengangkatan Tumanurunga ri Layu sebagai Penguasa Sapanang,yang terletak di tengah- tengah Kaki Lembah Sungai Jeneponto.( The Early Histori of Binamu and Bangkala di Sulawesi Selatan ; Ian Caldwell dan Wayne A.Bougas.Kata Pengantar : Dr.Edward L.Poelinggomang.2016 ).

Bacaan Lainnya

– Dulu di daerah ini berdiri salah satu Kerajaan bernama Kerajaan atau Kekaraengang Sapanang.
Kerajaan ini berada di Butta Turatea.
– Kerajaan Sapanang ini awalnya berdiri sendiri,
lalu kemudian dari sumber Kesejarahan tertulis
” Daftar Daerah taklukkan dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Binamu’.
memuat informasi yang detail tentang struktur politis Kerajaan Binamu,dan di temukan di dua naskah yang berasal dari abad XIX yang sekarang di simpan di Perpustakaan Universitas Leiden,
Karena sebagai teks tertulis ia kemungkinan berasal dari setelah abad XVII, namun sebagai tradisi lisan isinya hampir pasti berasal dari masa yang lebih tua “Daftar Daerah Taklukkan dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Binamu” menyebutkan 22 nama Negeri,diantaranya ;
1. Sapanang.
2. Sidenre
3. Balang.
4. Tonrokassiq.
5. Ciqnong.
6. Paitana.
7. Tolo.
8. Tino.
9. Rumbia.
10.Bontorappo
11. Pao dan lain- lain.
( Nederlandsch Bijbelgenootschap ( NBG ) MSS,100:120.1-8.Di kedua naskah kuno,”Daftar Daerah Taklukkan dan Wilayah kekuasaan Kerajaan Binamu dan Bangkala,” (NBG,101 :136,28-137 ).

– Kerajaan Sapanang sebagai Kerajaan yang berdiri sendiri namun menjadi pengikut dari Kerajaan Binamu.
Kerajaan Sapanang sebagai Palili atau sebagai Pendukung atau sebagai bagian atau satelit atau tributaries.
Kerajaan Sapanang atau sebagai Kekaraengang atau sebagai Onderdistrcten.
– Patron atau Penguasa Kerajaan Sapanang disebut juga sebagai Kepala Onder Distrik atau Distrik Bawahan atau Karaeng Palili,Bangsawan Lokal.

– Silsilah,Nasab,Tarsila dan Genealogisnya I Tunru Dg.Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ bersaudara berdasarkan salinan Silsilah Patturioloang yakni ;
– I Tunru Dg.Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ bersaudara anak dari I Langko Karaeng Guna Bin
I Mangitungi Dg.Rimo Karaeng Sapanang dan Ibunya bernama : Dg.Goa.
I Mangitungi Karaeng Sapanang anak dari
I Morra Dg.Pabilu Karaeng Sapanang dan Ibunya bernama ; I Palena Dg.Kanang.
– I Morra Dg Pabilu ( Bilu )Karaeng Sapanang memiliki 5 Istri,yaitu :
1. I Palena Dg.Kanang.
2. Yanrong Dg.Jannang.
3. Daeng Cora.
4. La’biri Dg.Maneng
5. Istrinya orang Boyong.
– I Morra Karaeng Sapanang meninggal dan makamkan di Boyong.
– I Morra Dg.Pabilu Karaeng Sapanang bersaudara dengan yaitu :
1. I Malung Dg.Lele Karaeng Sapanang.
2. Dg.Baji.
3. Dg.Beta.
Mereka berempat anak dari I Pagorra Karaeng Ropu.
– Sang Tumanurung Perempuan itu sebagai Penguasa Binamu oleh Toddo Appaka dan menambahkan bahwa keturunannya menikah dengan Keluarga Penguasa Sapanang.(Sejarah Awal Kerajaan Binamu dan Bangkala,Ian Caldwell dan Wayne A.Bougas.Kata Pengantar: Dr.Edward L.Poelinggomang ).

– Kerajaan Sapanang pada masa lampau pernah memiliki kekuasaan Pemerintahan di Wilayah Desa Sapanang,Desa Kayuloe Barat,Kayuloe Timur,Kelurahan Bontoa, Desa Jombe, Bontomate’ne, Langkura.

I Tunru Karaeng Ngero pernah Memimpin selaku Karaeng Sapanang diperkirakan tahun 1911 hingga 1947 atau kurang lebih 40 tahun lamanya,”

I Tunru Dg Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ Bin
I Langko Karaeng Guna dari 5 bersaudara yakni :
1. I Paonang Krg. Bali.
2. I Tunru Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’.
3. I Cakkuru Krg.Somba.
4. I Gappa Krg.Ngalle.
5. I Lanti Krg.Ngada.

I Tunru Dg Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ dan 4 saudara lainnya lahir di Bulo – Bulo.
Beliau di lahirkan
berkisar tahun 1890.

Menurut Ketua Panitia kegiatan Erwan Syafei R.Hindi.S.Sos,Krg.Sila mengatakan bahwa :

I Tunru Karaeng Sapanang Ni Temba’ dari pihak ibunya bernama Karaeng Bongi anak dari I Lasugi Dg Pasewang Karaeng Sidenre Karaeng Sulewatang Kerajaan Binamu pada tanggal 24 September 1874.
Dan menurut beberapa orang keluarga dari turun temurun lewat tradisi lisan salah satu sumber sejarah selain sumber sejarah tertulis.
I Lasugi Karaeng Sulewatang separuh Nasab asalnya dari Bangsawan Kerajaan Bulo-Bulo, Kerajaan Lamatti dan Kerajaan Tondong di Kabupaten Sinjai, merupakan Kelompok Gabungan/Persekutuan/Federasi Kerajaan Tellu Limpoe.
– Raja Bulo -Bulo di Sinjai ke-5 yang di gelar Ruttung’ngi Tana Maniang memperluas Wilayah Kerajaan Bulo-Bulo dengan menaklukkan tanah Wilayah selatan (Bulukumpa dan sekitarnya) serta menaklukkan Turungeng, bahkan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Bulo-Bulo saat itu membentang sampai ke tanah Garassi hingga Tanjung Bulo-Bulo (Wilayah Jeneponto sekarang) yang merupakan hadiah dari Raja Gowa ke-9
Daeng Mattanre Krg.Manguntungi Karaeng Tumakpakrisi Kallona,setelah Pasukan Bulo-Bulo berhasil mengalahkan dan mengusir Pasukan Demak dari Gowa.(Sejarah singkat Kerajaan yang pernah berkuasa di Sinjai,oleh : Andi Agung Iskandar Karaenta Manjapai ).

Salah satu nama dari 3 Istri I Tunru Karaeng Sapanang Ni Temba’ yaitu bernama Hj.Cinarung Karaeng Ngona bersaudara satu Ibu dari 7 bersaudara yaitu ;
1. Lanto Karaeng Pasewang
(Menjadi Kepala Hulp Bestuur Assistent in de onder afdeeling Djeneponto akhir tahun 1920-an.
Menjadi Djaksa di Ambon.
Tanggal 1 -2- 1932 menjadi Wakil Jaksa di Takalar.
Tahun 1935 sampai tahun 1942 diangkat sebagai Wakil Djaksa dan Kepala Djaksa dengan Kedudukan di Makassar.
Tahun 1942 – 1945 Lanto Dg (Krg) Pasewang menjadi Pejabat Polisi Indonesia Senior di Sulawesi.
Akhir bulan Agustus 1945 Menjadi Kepala Biro Umum dan Kepala Urusan Pemerintahan Struktur Propinsi Sulawesi dan Dr.Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi pertama.
Awal tahun 1950 terpilih menjadi Ketua Fraksi Persatuan di Parlemen NIT.10 Mei sampai 16 Agustus 1950 menjadi Menteri Dalam Negeri Kabinet Ir.J.Putehena atau Kabinet Likwidasi.
Menjadi Residen di Perbantukan pada Kementerian Dalam Negeri.
dan Gubernur Propinsi Sulawesi ke-3 pada tanggal 9 November 1953 – 1956.
2. Pakki Karaeng Masiga
Pernah menjadi H.B.A ( Hulp Bestuurs Assistent di Palopo ).
dan Tahun 1949 sampai Tahun 1951 menjadi Bupati Luwu ke-2.( Daftar Bupati Kabupaten Luwu bersumber dari Wikipedia dan Ensiklopedia Kabupaten Luwu).
3. I Mangnguluang Dg Ngolo Karaeng Empoang.(Orang tua dari Abd.Djalil Krg.Sikki ; Bupati Jeneponto Kedua tahun 1960 – 1966 ).
4. Tanri Ci’nong Karaeng Balang Suaminya Karaeng Balumbungan ke- 2,
(Orang Tua dari A.Rifai Krg.Bulu Bupati Bantaeng Pertama,1 Februari 1960 sampai tahun 1965 ).
5. I Mangunturang Krg.Ma’ro.
6. Tanri Krg.Ngarung.
Kata Erwan Syafei R.Hindi. Karaeng Sila.

– Mereka Semua Anak dari I Djangkang Dg.Lili Karaeng Sidenre dengan I Sulo Krg.Sioro.

I Tunru Karaeng Sapanang mempunyai tiga Orang Istri yaitu :
1. Hj.Cinarung Karaeng Ngona Binti I Djangkang Dg Lili Karaeng Sidenre, mereka berdua bersepupu satu kali sekaligus Istrinya sebagai Permasuri.
– Karena Ibunya I Tunru Dg.Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ bernama Karaeng Bongi bersaudara dengan Ayahnya Hj.Cinarung Karaeng Ngona yang bernama I Djangkang Dg.Lili Karaeng Sidenre Bin
I Lasugi Dg.Pasewang Karaeng Sidenre Karaeng Sulewatang.

Ia Memaparkan Bahwa Karaeng Sapanang Ni Temba’ I Tunru Krg.Ngero Mempunyai 7 anak yakni :
1.Bimbi Krg.Ledeng
(Suami pertamanya bernama Krg.Mangkala Karaeng Bantaeng ke- XXVI Bin Krg.Panawang Karaeng Bantaeng ke- XXIV,bercerai tidak memiliki anak dan Suami Keduanya sekaligus Sepupu satu kali bernama Lantara Krg. Nappu Bin I Manggulung Dg Ngolo Karaeng Empoang).
2. I Maliang Sila Karaeng Sapanang bergelar Karaeng Lompo Bangkeng (istrinya sekaligus sepupu 3 kalinya bernama I Minasa Krg.Tinja Binti H. Pa’du Karaeng Tinggi,
3. Hj.Kullu Krg.Ngai (suaminya bernama H. Padewakang Krg.Gassing)
4. H. Kamaluddin Krg.Lili ( Wakil dan Ketua DPRD Gotong Royong/ DPRD-GR Tk I Sulawesi- Selatan di tahun 1960 – 1965 dan Ketua DPRD Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1966 – 1967,dan anggota DPRD Dati I Provinsi Sulawesi Selatan di tahun 1977.
Istrinya bernama Hj. Sulo Krg. Sioro Binti Mangnguluang Dg Ngolo Karaeng Empoang (sekaligus Sepupu satu kali ),
5. H.Sonda Krg.Tayang (Tahun 1961- 1962 sebagai Sekda Pertama Jeneponto dan Tahun 1962 Camat Kelara pertama,Asisten Direktur III APDN merangkap Dosen.
6. Hj.Norma Krg. Luw’.
(suaminya bernama H.Hasanuddin Krg.Tinggi ).
7. Lasugi Krg.Sewang istrinya sekaligus Sepupu satu kali bernama Bunga Krg.Pa’ja,
jelas Erwan Syafei R.Hindi. Krg.Sila.
2. Istri Keduanya I Tunru Karaeng Sapanang Ni Temba’ bernama ; Marica Dg.Bambang.
3. Istri ketiganya bernama ; Dg.Tungga.

I Gappa Karaeng Ngalle Bin I Langko Karaeng Guna mempunyai 5 anak yakni :
1.Hj.Sindra Krg.Te’ne,
2.Sanusi Krg.Ngondang,
3.Subaedah Krg.Ngalusu
4. Bunga Krg.Pajja,
5. H.Saenal Abidin Krg.Ngopa.

I Paonang Karaeng Bali Bin I Langko Karaeng Guna mempunyai dua Istri dan 12 anak.
1. Dg.Ranyu,memiliki anak yaitu :
1. Nurdin Krg.Gassing.
2. Rampe Krg.Koasa.
3. Patta Krg.Lalang.

2. Dg.Bollo,memiliki anak,yaitu :
1. Palutturi Krg.Ngemba.
2. H.Soba Krg.Raga.
3. Gasali Krg.Buang.
4. Hj.Johra Krg.Layu.
5. Bohari Krg.Tojeng.
6. H.Massiara Krg.Nyitto.
7. Langko Krg.Guna.
8. Hj.Saera Krg.Kebe.
9. Hj.Tanajawa Krg.Ngambong.

Dalam Struktur Kepanitiaan kegiatan tersebut tak lain adalah Keluarga Besar
I Langko Karaeng Guna Bin I Mangitungi Dg Rimo Karaeng Sapanang Bin I Morra Dg Pabilu Karaeng Sapanang Bin I Pagorra Karaeng Ropu meneruskan I Tunru Dg.Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’.

Di Sela-sela Acara sebelumnya Keluarga Besar I Tunru Dg.Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ berziarah ke Taman Makam Pahlawan Karisa,Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto.

I Tunru Krg Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ adalah Pejuang beserta anak-anaknya sebelum Indonesia merdeka sampai mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, yang di kenal pemberani melawan Penjajahan Kolonial Belanda dan beliau termasuk Korban 40.000 Jiwa di Kabupaten Jeneponto.
I Tunru Karaeng Sapanang dan salah satu anaknya bagian dari salah satu unsur Pimpinan LAPTUR (Laskar Pemberontak Turatea )beserta Keluarga dekatnya yang lain.

Masih kata Karaeng Sila menjelaskan tentang Sejarah I Tunru Krg. Ngero Karaeng Sapanang berkisar 77 tahun lalu wafat atau meninggalnya beserta sanronya dan beberapa pengawalnya dan Beliau di atas tandu dalam keadaan Sakit.
– Rumah dari I Tunru Dg.Ngero Karaeng Sapanang dan berdampingan rumahnya anaknya I Maliang Krg.Sila di bakar oleh Pasukan Westerling beserta kaki tangan Belanda.yang sebelumnya Istri beliau beserta anak- anak dan salah satu menantu beliau dan tiga cucunya mengungsi berlindung.

I Tunru Karaeng Sapanang bersama pengikutnya di tembak dan di bantai tepatnya di pinggir Sungai Padatte Sekke Desa Kayuloe Barat, yang dulunya salah satu Wilayah Kerajaan Sapanang dalam Peristiwa Korban 40 ribu Jiwa yang dilakukan oleh Pasukan Khusus Depot Special Troops (DST) atau Pasukan Baret Merah yang di datangkan dari Batavia (Jakarta).

– Menurut Penuturan H.Maulwi Saelan,Tentara Pejuang,Pelaku Sejarah dan mantan Pengawal Bung Karno,daerah yang terkena Operasi ini mencapai 14 Daerah yaitu :
Makassar,Gowa,Takalar, Jeneponto,Bantaeng, Bulukumba,Sinjai,Maros, Pangkajene,Barru, Sidenreng rappang, Pinrang,Polewali dan Mandar.

– 8 Januari 1947,banjir darah di sepuluh Kampung,yaitu :
Sapanang,Bontoramba, Bulo-Bulo,Palajau,Lentu, Paitana,Bangkala,Layu, Tarowang,Balumbungan, Arungkeke dan Togo-togo.
Rakyat bergantian rebah ke tanah diterkam oleh Pasukan Kapten Raymond Westerling,
Tindakan ini adalah pembalasan sewaktu di serang dan di usir dari Bulo-Bulo oleh Pasukan TRI yang baru mendarat dari Jawa pada 7 Januari 1947.

Dalam serangan pembantaian dan penembakan tersebut di komandoi Kapten Raymond Paul Pierre Westerling dan di bantu Pasukan Komoninklijke Nederlancsch Indisch Leger (KNIL) dan Netherlands Easterns Forces -NEFIS merupakan Inteligent Militer Belanda dan di bantu beberapa orang Pribumi Lokal yang menjadi mata mata Belanda sebagai penghianat Bangsa dan sebagai Kaki tangan Belanda. Tutur Karaeng Sila dalam Sejarahnya.

I Tunru Karaeng Sapanang bersama pengikutnya meninggal di tempat,dan sebelumnya Beliau di Makamkan di Kampung Padatte Sekke Desa Kayuloe Barat,Kecamatan Turatea dan kemudian di pindahkan Jenazah Almarhum I Tunru Krg Ngero Karaeng Sapanang ke Taman Makam Pahlawan LAPTUR Karisa kecamatan Binamu Jeneponto.di waktu Pemerintahan Abd.Djalil Krg.Sikki sebagai Kepala Daerah/ Bupati Kedua Jeneponto (periode tahun 1960 – 1966 )sekaligus kemenakan dari I Tunru Karaeng Sapanang Ni Temba’ dan Hj.Cinarung Krg.Ngona.

Ketua Panitia :
Erwan Syafei R.Hindi.S.Sos Krg.Sila.

Kata Sambutan dari Pihak
I Tunru Karaeng Ngero Karaeng Sapanang Ni Temba’ :

1. Ir.Kamaluddin.R.Hindi. M.Sc.Krg.Tinggi.
2. Prof.Dr.Ir.Hj.Asriani Hasanuddin Krg.Ngona,
3. Prof.Dr. Bakri Hasanuddin, SE,M.SI.Krg Lili.

Dari Keluarga
I Paonang Krg. Bali :
1.Harianto Toto, SE.MM.

Dari Keluarga
H.Gappa Krg.Ngalle :
1. Dra. Hj Rosmina, S.Pd Krg.Kanang. (Redaksi)

PT. Halilintar News Group

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *