HALILINTARNEWS.id, BANTAENG β Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Gerakan Bersama Pemenuhan Air Bersih bagi Masyarakat Terdampak Kekeringan melalui Program βBantaeng Peduliβ di Ruang Pola Kantor Bupati Bantaeng, Senin (5/10/2026).
Rakor tersebut dihadiri Kajari Bantaeng Hadi Sukma Siregar, Dandim 1410 Bantaeng Letkol Arh. Muh. Husni Hidayat Muchlis, Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng H. Muhammad Tafsir, Kabag Ops Polres Bantaeng AKP Dr. Nurhayati mewakili Kapolres Bantaeng, anggota DPRD Bantaeng Marzuki Hasan mewakili Ketua DPRD Bantaeng, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantaeng Asruddin, para kepala OPD, serta para camat se-Kabupaten Bantaeng.
Dalam rakor tersebut, Bupati menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
Menurutnya, pemerintah daerah bersama Forkopimda dan seluruh unsur terkait telah melakukan berbagai langkah konkret, termasuk turun langsung mendistribusikan air bersih kepada warga yang terdampak.
βBeberapa hari yang lalu, bersama seluruh kepala OPD, kami turun langsung memberikan bantuan dan mendistribusikan air menggunakan mobil tangki di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Paβjukukang dan Kecamatan Bissappu,β ujar Bupati.
Ia mengatakan, penanganan dampak kekeringan tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Karena itu, pemetaan wilayah terdampak terus dilakukan untuk memastikan distribusi air bersih tepat sasaran.
Melalui Program βBantaeng Peduliβ, distribusi air bersih akan dilaksanakan mulai 6 Oktober hingga 6 November 2026. Penyaluran dijadwalkan dilakukan dua kali dalam sepekan dengan jeda tiga hari.
Bupati menjelaskan, kondisi kekeringan terjadi setelah hujan terakhir tercatat turun di Kabupaten Bantaeng pada minggu ketiga Juli 2026. Hari tanpa hujan kemudian berlangsung sejak awal Agustus hingga saat ini.
Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Kekeringan juga berdampak terhadap lahan pertanian dan perkebunan serta meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Untuk Kecamatan Paβjukukang, terdapat lima desa yang terdampak, yakni Batu Karaeng, Nipa-Nipa, Paβjukukang, Borrong Loe, dan Biangloe. Di wilayah tersebut terdapat 19 titik distribusi air berbasis dusun.
Sementara di Kecamatan Bissappu, wilayah terdampak meliputi Bonto Rita, Bontosunggu, Bonto Atu, Bonto Lebang, Bonto Cinde, Bonto Jai, dan Bonto Langkasa. Terdapat sekitar 60 titik yang mengalami krisis air bersih berbasis RT dan RW.
Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan dalam rakor, musim hujan di Kabupaten Bantaeng diperkirakan mulai pada minggu kedua Desember 2026. Adapun puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Januari hingga Maret 2027.
Bupati berharap Gerakan Bersama melalui Program βBantaeng Peduliβ dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama masa kekeringan.
βGerakan ini adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab kita bersama. Kita ingin memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tidak kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, khususnya air bersih,β pungkasnya.
Reporter : Anto
Redaktur : Fitri Indriani
@halilintarnews.id 2026












