HALILINTARNEWS.id, WAJO β Rapat Paripurna Hari Jadi Wajo (HJW) ke-627 bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi panggung besar yang menyatukan sejarah, budaya, dan tekad kolektif menuju masa depan yang lebih kuat.
Bertempat di Ruang Pola Kantor Bupati Wajo, Kamis (9/4/2026), suasana tampak khidmat sekaligus semarak. Balutan busana adat Bugis yang dikenakan para tamu undangan, berpadu dengan nuansa elegan kain sutra, menghadirkan atmosfer yang sarat makna kultural.
Tepat pukul 09.00 WITA, Ketua DPRD Wajo, Ir. H. Firmansyah Perkesi, membuka Rapat Paripurna ke-8 dengan ketukan palu yang tegasβmenandai dimulainya peringatan 627 tahun perjalanan panjang Bumi Lamaddukelleng.
Dalam pidatonya, Firmansyah menegaskan bahwa angka 627 bukan sekadar hitungan usia, melainkan simbol ketahanan sejarah yang dibangun dari nilai perjuangan, musyawarah, dan kebijaksanaan para leluhur yang terekam dalam Lontarak Sukkuna Wajo.
βWajo berdiri di atas fondasi pemikiran besar dan kerja keras generasi terdahulu. Ini adalah warisan yang harus kita jaga dan lanjutkan,β tegasnya.
Mengusung tema βMengokohkan Kebersamaan Menuju Wajo Maradekaβ, peringatan tahun ini menegaskan kembali jati diri masyarakat Wajo yang berakar pada filosofi luhur 3S: Sipakatau (memanusiakan), Sipakalebbi (saling menghargai), dan Sipakainge (saling mengingatkan).
Di tengah tantangan modernisasi, nilai-nilai tersebut menjadi kompas moral yang menjaga keseimbangan antara kemajuan dan identitas budaya.
Kehadiran Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, bersama jajaran pejabat lintas daerahβmulai dari DPR RI, DPRD Sulsel, hingga kepala daerah dari Bone, Soppeng, Sidrap, Parepare, Enrekang, Luwu Utara, dan Toraja Utaraβmenjadi bukti kuatnya solidaritas regional yang terbangun.
Tak kalah penting, kehadiran tokoh adat seperti Arung Bentengpola, Datu Belawa, dan Datu Pammana mempertegas kesinambungan nilai antara masa lalu dan masa kini. Mereka menjadi simbol hidup bahwa Wajo modern tetap berpijak pada akar tradisi.
Dikenal sebagai tanah para saudagar, Wajo memiliki karakter khas: menjunjung tinggi kemandirian dan kebebasan individu, namun tetap tunduk pada tatanan adat. Perpaduan antara jiwa kewirausahaan dan kultur agraris inilah yang menjadi kekuatan strategis dalam mewujudkan visi βWajo Maradekaβ.
Menjelang penutupan, pesan yang mengemuka semakin menguatkan arah perjalanan Wajo ke depan: bahwa pembangunan tidak bisa berdiri sendiri tanpa persatuan.
βKebersamaan adalah fondasi utama kita untuk melangkah lebih jauhβmenuju Wajo yang maju, mandiri, dan berkarakter,β pungkas Firmansyah sebelum menutup sidang dengan tiga ketukan palu yang penuh makna.
Peringatan HJW ke-627 ini menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah penegasan identitas, penguat solidaritas, dan titik tolak kebangkitan Wajo dalam menatap masa depan. (Andi Indera Dewa)












